Kamis, 02 Februari 2012

Dimensi Bathiniah dalam Shalat

Posisi Berdiri: Al-nafs al-ammarah

Jiwa yang memerintah. Al-Quran menyebut jiwa ini, “ …Sungguh, jiwa (manusia) menyuruh berbuat kejahatan, …” (QS Yusuf [112]: 53). Nafs ini ada dalam indra yang dikuasai oleh berbagai hasrat dan keinginan dunia rendah. Perjuangan dalam tahap-tahap awal Perjalanan Spiritual adalah melawan al-nafs al-ammarah. Al-nafs al-ammarah adalah islam tahap pertama, serupa dengan posisi berdiri (qiyam) dalam shalat. Al-nafs al-ammarah berarti melakukan perjalanan menuju Allah


Posisi Rukuk: Al-nafs al-lauwwamah

Jiwa yang mencela. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela” (QS Al-Qiyamah [75]). Jiwa ini menyadari dan mengetahui berbagai kekurangannya. Perjalanan yang ditempuh adalah demi Allah. Al-nafs al-lauwwamah adalah anak tangga kedua (iman) dalam tangga Pengetahuan, serupa dengan rukuk dalam shalat. Al-nafs al-lauwwamah telah dipasang atas diri kaum Sufi agung, Al-Malamatiyyah, untuk menjaga mereka dari sikap membanggakan-banggakan diri.

Posisi Berdiri-2: Al-nafs al-mulhammah

Jiwa yang terilhami. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Demi jiwa dan penyempurnaannya” (QS Al-Syams [91]: 7). Jiwa ini menjauhkan manusia dari kejahatan dan mampu melihat sarana yang akan mengantarkannya menuju Kebahagiaan. Ia melakukan perjalanan di bawah pengawasan Allah. Al-nafs al-mulhammahadalah anak tangga ketiga (ihsan) dalam tangga Pengetahuan, serupa dengan posisi berdiri (qiyam) kedua (i’tidal) dalam shalat.

Posisi Sujud: Al-nafs al-muthma ‘innah

Jiwa yang tenang. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Wahai jiwa yang tenang!” (QS Al-Fajr [89]: 27. Jiwa ini tenang karena beristirahat dalam Keyakinan Allah. Ia telah dipadukan kembali dengan Ruh. Al-nafs al-muthma’innah melakukan perjalanan bersama Allah. Ia adalah anak tangga keempat (ilm al-yaqin) dalam tangga Pengetahuan, serupa dengan sujud (sajdah) pertama dalam shalat.

Posisi Duduk: Al-nafs al-radhiyyah

Jiwa yang ridha. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati ridha … ” (QS Al-Fajr [89]: 28). Jiwa ini ridha dengan dirinya sendiri karena keseimbangan harmonis dari berbagai karakter mulianya. Jiwa ini hilang dalam Allah dan melakukan perjalanan di dalam Allah. Al-nafs al-radhiyyah adalah anak tangga kelima (aun al-yaqin} pada tangga Pengetahuan, serupa dengan posisi duduk (jalsah) pertama dalam shalat.

Posisi Sujud-2: Al-nafs al-mardhiyyah

Jiwa yang diridhai Allah. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Dan diridhai oleh-Nya!” (QS Al-Fajr [89]: 28). Ia mengalami kebingunan dalam melakukan perjalanan dari Allah. Al-nafs al-mardhiyyah adalah anak tangga keenam (haqq al-yaqin) dalam tangga Pengetahuan, serupa dengan sujud (sajdah) kedua dalam shalat.

Posisi Duduk-akhir: Al-nafs al-kamilah

Jiwa paripurna. Al-Quran menyebut jiwa ini, ”Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah dalam Surga-Ku” QS Al-Fajr [89]: 29-30). Inilah tahap terakhir dalam perkembangan jiwa menuju sang Jiwa. Inilah tahap Islam hakiki ketika sang hamba terus-menerus melakukan perjalanan bersama Allah.Al-nafs al-kamilah serupa dengan posisi duduk akhir (jalsah) dalam shalat.

Shalat. Shalah mengacu secara khusus pada ibadah ritual. Inilah hubungan antara hamba (abd) dan Tuhan (rabb)-nya. Wudhu sebelum shalat melambangkan perpisahan dari diri (nafs).

Shalat sendiri melambangkan hubungan dengan Allah. Tujuh posisi badan dalam shalat melambangkan tahap-tahap Perjalanan Spiritual Kembali pada Sumber dan juga tujuh tingkatan pengetahuan yang mesti dilewati dalam kenaikannya (mi”raj)-nya.

Ketika orang yang melakukan shalat (mushalli) menghampiri Allah, maka semakin dalam dan intens shalat yang dilakukannya. Nabi Muhammad Saw bersabda: ”Shalat tanpa dirimu lebih baik dari tujuh puluh shalat”.

Ketika hati disucikan melalui perjuangan spiritual dan mengingat Allah, dan ketika dia menempuh Perjalanan Kembali, sang penempuh Jalan Spiritual (salik) meninggalkan jiwa rendahnya.

Pada mulanya, Cahaya Illahi memancar pada hati sang salik-mushalli. Berangsur-angsur, Cahaya Allah yang tak terbatas, cahaya ini masuk dan menembus setiap zarrah diri dan wujudnya.

Kemudian, dia melakukan shalat tanpa dirinya, karena ”Tak ada yang menyembah Allah selain Allah sendiri”.

Dikutipkan dari: ”Hidup Sehat ala Sufi”

al-mufrad george soedarsono esthu


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar